Posts

We are never as sane as you, Luna.

Image
" Just be yourself, tapi pake standart society. Kalo gak, mereka pasti nganggap kamu aneh,   " begitu kata seorang teman pada saya. Kalau dipikir-pikir bener juga dia. Ada berapa banyak sih orang-orang yang kita sebut 'gak waras', 'aneh' cuma karena penampilan atau cara pandang mereka tidak biasa dan tidak normal menurut standart kita. Standart normal yang ada membuat orang-orang seperti Luna kerap dipanggil 'tidak waras'. Luna memiliki cara pandang dan penampilan yang tak biasa, karenanya dia dipanggil Loony (yang dapat berarti gila). Luna juga tidak punya teman karena ke-anehannya. Sampai akhirnya dia bertemu Harry dan berteman dengannya dan juga teman-teman Harry yang lain. Mengapa Luna tidak marah ketika orang-orang memanggilnya Loony? Why should she? Luna membuktikan bahwa kenormalan itu cuma standart yang sebenarnya gak perlu-perlu amat untuk dipenuhi. Bagi mereka, normal adalah A, namun bagi Luna normal adalah B. Luna tidak masalah orang-oran...

Love for Moony

Image
“Sejak dulu beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir…” Yah....Cut Pat Kay emang bener, sih. Cinta kalo udah tragis, tragis banget. Banyak fiksi yang menceritakan kisah cinta tokohnya yang tragis. Kisah  Romeo dam Juliet yang paling banyak orang tahu. Mereka menghadapi ajal bersama, seperti Remus dan Nymphadora. Bedanya, Remus dan Nymphadora meninggal sebagai pahlawan, kematian mereka adalah kematian yang tidak dilandasi oleh ego seperti Romeo dan Juliet. They died in a war to defend something right. Dan, kematian Remus sendiri adalah satu dari hal yang dibenci oleh J.K. Rowling sendiri. Aku pun sebagai pembaca juga sering meratapi kematian Remus dan Nymphadora. Kenapa? Ya karena kisah mereka ini menunjukkan apa itu unconditional love.  Remus John Lupin harus menerima keadaannya sebagai Werewolf selama hidupnya, yang juga kutukan yang ia dapat dari gigitan werewolf yang juga seorang Death Eater, Fenrir Greyback. Masa kecilnya dihabiskan dengan isolasi oleh orangtuany...

Order Of The Phoenix

Order of The Phoenix adalah judul buku ke-5 serial Harry Potter yang sangat saya gemari (lebih tepatnya, I'm obsessed. LOL). Oder of The Phoenix juga adalah organisasi yang dibentuk Albus Dumbledore untuk memerangi Voldemort dan antek-anteknya. Albus Dumbledore membentuk organisasi ini saat Voldemort mulai berkuasa. Voldemort yang kita ketahui ini sangat anti sekali dengan Muggle-Borns yang menjadi minoritas di Dunia Sihir. Bagi Voldemort dan antek-anteknya, Muggle-Borns tidak seharusnya berada di Dunia Sihir dan mereka harus dilenyapkan. Albus Dumbledore yang meski punya memori buruk terhadap kaum Muggle, merasa tujuan Voldemort ini jahat dan harus diperangi. Albus juga bukan bagian dari Muggle-Borns yang menjadi minoritas di Dunia Sihir. Tapi Albus sadar, tindakan diskriminatif dan rasis begitu juga tidak seharusnya berada di Dunia Sihir. Maka Albus memanggil sebagian mantan muridnya dan penyihir-penyihir lainnya yang memiliki pandangan yang sama untuk bersatu didalam Order of Th...

The Blacks

Family Issue selalu ada di fiksi fantasi yang saya gemari. Middle-Earth saga, Star Wars ( Skywalkers need to meet family counseling, seriously ), dan Harry Potter. Dalam Harry Potter yang mengalami masalah keluarga paling berat menurut saya adalah Sirius dan sepupunya, Andromeda. Mereka bahkan dicoret dari KKP (Kartu Keluarga Penyihir) oleh orang tuanya. Sirius dan Andromeda harus membayar mahal dari sebuah keyakinan yang mereka pegang teguh. Sirius  lahir dari keluarga penyihir yang percaya bahwa Muggle-Borns tidak berhak berada di dunia sihir. Mereka membenci Muggle dan bahkan tidak menganggap keluarga mereka yang Squib (keturunan penyihir namun tidak memiliki kemampuan sihir).Namun Sirius memiliki pandangan yang berbeda dari keluarganya. Bagi Sirius, tidak ada yang salah bila Muggle memang berada di dunia sihir. Sirius bukanlah orang pertama yang mempunyai pemikiran seperti itu. Sepupunya, Andromeda Tonks menikahi Muggle Born. Menarik karena sebenarnya kepercayaan Darah Murn...

It's fine, Pa.

Selamat Hari Ayah Nasional untuk calon ayah dari anakku kelak, Tom Hiddleston. Awuwuwuwu. (Etdah, belum apa-apa uda delusional). Hehehe. Anyway, Selamat Hari Ayah Nasional untuk papa-papa muda di luar sana yang masih bikin deg-degan para kaum wanita 20-an. *direndem* Well, papaku sendiri udah meninggal 6 tahun yang lalu ketika aku masih 15 tahun. 6 tahun jadi anak yatim biasa aja ah. Ga melas-melas amat meski hidup susah juga. Hahaha. Ya, sejak papa ga ada, mau ga mau harus hidupin diri sendiri sebisanya meski dulu sempet dibantu-bantu lah sama kakak-kakakku. Sempet ngeluh? Jujur, ga pernah. Dikit sih, tapi ya kalo pas lagi capek aja. Papa sendiri bisa dibilang sosok yang penting banget di kehidupanku. Selama beliau ada, hidupku 80% tergantung sama beliau. Berangkat sekolah dianter, pulang juga dijemput. Keman-mana pokoknya sama papa. Beliau sendiri kayak ga rela aja anaknya yang paling bontot ini repot. Yes, i was daddy's girl. Ketika papa sakit sampai akhirnya beliau meni...

Kau pun berhak bahagia, teman. (Tribute to Van Gogh. Fanfiksi Doctor Who Season 5 Episode 10)

Image
TARDIS mendarat dengan sukses didepan Musee d'Orsay, Paris. The Doctor dan Amy keluar terlebih dahulu dari dalam TARDIS sedangkan Vincent masih ragu melangkahkan kakinya. Amy meraih tangan Vincent dan berkata, "Keluarlah, kami ingin menunjukkan suatu tempat yang menakjubkan kepadamu,"               Vincent pun mengikuti langkah Amy dan The Doctor dari belakang. Dia melihat sekelilingnya dengan takjub. Orang-orang lalu lalang dengan benda kecil dan berbicara kepada benda itu. Ini tempat yang gila, begitu pikir Vincent. Didepannya, ia melihat bangunan megah dan ia tahu bahwa bangunan ini adalah museum. "Kita berada di masa depan, Vincent. Di tahun 2010 dan ini adalah Musee d'Orsay, museum yang banyak memajang karya seni dari seniman hebat disini. Apalagi lukisan. Banyak pelukis hebat yang karyanya dipajang di tempat ini. Kepalamu pasti meledak karena senang melihat lukisan-lukisan itu!" ujar The Doctor pada Vincent. "Benarkah? Ayo bawa aku masuk!"...

Kids : Angels and Demons in one package

Pekerjaanku yang melibatkan anak-anak memberikan satu kesimpulan, anak-anak adalah malaikat dan iblis dalam satu paket, Mereka bisa sangat manis sekali, dan mereka bisa sangat menyebalkan. Dan kalian ga prediksi kapan mereka bisa menjadi angel dan kapan mereka bisa menjadi demons. Sesungguhnya itu rahasia illahi. That's why it's hard to raise them.     Sehari-hari aku ketemu dengan anak-anak. They're my students. Setiap hari aku selalu dapat cerita baru dari mereka entah itu jatuh dari sepeda, dibeliin boneka Elsa, atau sekedar ngasih tahu kalo poni abis dipotong (penting ga?) dan aku sebagai guru ya pura-pura untuk amazed seakan-akan abis liat Benedict Cumberbatch sempakan doang. Ya itu sih salah satu contoh, mereka sedang dalam Angels Mode On. Gimana kalo mereka dalam Demons Mode On? Ada aja loh yang bikin naik darah. Entah itu mogok ga mau belajar, nangis karena masih ngantuk, ngambek karena ga boleh bawa robot Optimus Prime, dan yang paling absurd adalah...... sebe...